Selasa, 12 Oktober 2010


TUGAS ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

KORELASI ANTARA MANUSIA SEBAG

AI MAHLUK BUDAYA DENGAN FILM SANG PENCERAH

Disusun Oleh :

Wahyu Kusumasakti

10013074

MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar dapat terselesaikan dengan baik.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu saya mengharapkan saran dan kritik pembaca yang bersifat membangun, agar laporan ini dapat menjadi lebih baik di kemudian hari.

Akhir kata, saya ucapkan terimakasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yogyakarta, 1 Oktober 2010


Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………….i

Kata Pengantar …………………………………………………………………ii

Daftar Isi ………………………………………………………………………...iii

BAB I : Pendahuluan …………………………..………………………........ 1

BAB II : Analisa ………………………………………….………………….... 5

1. a. Konsep Menurut Para Ahli ................................................. 5

1. b. Resensi / Sinopsis Film ….................................................. 8

1. c. Analisis ………………………………………………………. 10

BAB III : Kesimpulan ………………………………………………………… 17

Daftar Pustaka ……………………………………………………………….. 20



BAB I

PENDAHULUAN

Interaksi dalam kehidupan manusia sangatlah beragam, ini dapat terlihat dari luasnya hubungan yang terjadi pada setiap individu. Hubungan tersebut meliputi hubungan individu dengan individu, individu dengan alam dan lingkungan, individu dengan mahluk alam lain dan individu dengan Tuhannya. Pada dasarnya semua interaksi tersebut harus berjalan dengan seimbang agar tidak terjadi kesenjangan dalam menjalani kehidupan dan keselarasan dalam menjalani hidup.

Manusia diciptakan oleh tuhan sebagai mahluk yang beradab dan berakal, oleh karena itu manusia didaulat sebagai mahluk yang paling mulia dari semua mahluk ciptaan tuhan. Oleh karena hal itu manusia mempunyai kemampuan untuk mencipta, dan hasil ciptaan manusia tersebut secara tidak langsung menjadi acuan baginya untuk menjalani kehidupan bermasyarakat, hasil ciptaan manusia itu biasa kita sebut sebagai “Budaya”.

Berbudaya merupakan sebuah pendidikan dasar yang harus di ampu oleh setiap manusia, karena di dalam budaya terdapat sebuah ajaran tentang norma-norma bermasyarakat. Dari hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan adalah sebuah produk dari sebuah kebudayaan, oleh

karena itu pendidikan haruslah menjadi sebuah mesin pendorong bagi terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan harus dapat memberikan kontribusi positifnya dalam perkembangan kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi manusia dan bangsa sebagai pelaku dan pencipta sebuah kebudayaan.

Sebelum kita mulai mengkorelasikan antara unsur budaya manusia dengan film sang pencerah, kita harus tahu terlebih dahulu isi dan gambaran dari film tersebut. Film ini berlatar belakang sejarah di akhir abad ke 19 yang menceriakan tentang sepak terjang seorang pendiri organisasi Muhammadiah. Muhammad Darwis yang mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan sepulangnya dari mekkah pada usia 21 tahun.

Pada usia yang tergolong masih muda, beliau merasa gelisah atas pelaksanaan syariat islam yang dinilainya melenceng ke arah bid’ah / sesat karena itulah Agama Islam dipandang sebagai agama mistik dan tahayul oleh kalangan orang Eropa (Belanda) dan kaum modern.

Melalui suraunya Ahmad Dahlan membuka sekolah yang menyadarkan bahwa Islam tidak hanya berkutat soal tauhid, tetapi juga mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan. Bagi Ahmad Dahlan kemiskinan disebabkan karena kebodohan, berangkat dari gagasan itulah maka laki-laki putra Khatib Masjid Besar Kauman itu memulai kiprah besarnya.

Ahmad Dahlan memulai pergerakan besarnya dengan mengubah arah kiblat Masjid Kauman. Melalui pengetahuan geografi yang dimilikinya Ahmad Dahlan menyadari bahwa arah kiblat tidak lurus ke arah barat. Hal ini memicu kemarahan para kyai fanatik, terutama Kyai Penghulu Kamaludiningrat yang merupakan kyai penjaga tradisi. Akibatnya, surau milik Ahmad Dahlan kemudian dirobohkan karena dituding menyebarkan aliran sesat. Aktifitas lain Ahmad Dahlan, yaitu membuka sekolah yang menggunakan kursi seperti di sekolah modern Belanda hal ini juga membuatnya dituding sebagai Kyai Kafir.

Bagi beliau Islam adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin, memberikan kedamaian bagi siapa saja termasuk non muslim, selama masih pada koridor pembangunan kesejahteraan masyarakat. Baginya hal pertama yang seharusnya dikedepankan umat Islam adalah akhlaq yang baik, terbuka dan toleran seperti Rasulullah SAW. Secara perlahan kiprah Ahmad Dahlan yang diangap kontroversi tersebut mampu mengubah tidak hanya pandangan umat Islam kebanyakan, tetapi juga kaum Barat terhadap Agama Islam.

Selain itu, tuduhan Kyai Kejawen juga sempat dilemparkan kepadanya karena Ahmad Dahlan dekat dengan cendikiawan Jawa di Boedi Oetomo. Semua penolakan dan tuduhan tersebut tidak membuat Ahmad Dahlan mundur. Dengan didampingi istrinya Siti Walidah dan dukungan lima orang murid setianya Fahrudin, Sudja, Sangidu, Hisyam dan Dirjo. Kemudian pada tahun 1912 Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan untuk mendidik umat Islam yang saat itu berbaur dengan mistik kejawen agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman agar tidak mudah tertindas oleh bangsa lain dan agar dapat dengan mudah menerima segala macam pemikiran-pemikiran baru yang bersifat positif demi kemajuan intelektualitas.




BAB II

ANALISA

1. a. Konsep Menurut Para Ahli.

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah suatu keseluruhan sistem gagaan milik dari diri manusia yang didapat dari proses “belajar”. persepsi ini dapat di padukan dengan pandangan kebudayaan menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi yang menyatakan bahwa, kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari perpaduan dua teori ini dapat dilihat bahwa manusia itu sebagai pencipta dan pelaku kebudayaan. Sebab pada dasarnya budaya memang tercipta dari hasil pemikiran dan gagasan-gagasan yang muncul dari hasil belajar seorang individu atau kelompok terhadap pengalaman yang pernah di alami untuk mencapai ke kesempurnaan walau pada kenyataannya sampai kapanpun manusia tidak akan dapat mencapainya. Hal ini dikarenakan bahwa manusia mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk Tuhan yang lain, yaitu akal, nurani dan rasa ingin tahu yang sangat besar.

Manusia sebagai pencipta kebudayaan juga telah di terangkan pada pandangan Herkovits yang menyebutkan bahwa, kebudayaan adalah bagian dari lingkungan yang diciptakan oleh manusia. Dari hal ini

dapat kita lihat bahwa adaya interaksi yang begitu besar antara manusia dengan lingkungan. Dapat kita jabarkan lagi bahwa manusia sebagai mahluk budaya memegang peranan yang sangat penting dalam kontrol budaya dan perkembangannya. Karena tanpa keberadaan manusia, kebudayaan tidak akan pernah ada.

Proses munculnya atau lahirnya sebuah kebudayaan diperlukan pengorbanan waktu dan rasa. Karena proses lahirnya sebuah kebudayaan memerlukan waktu yang cukup lama sebab prosesnya berupa tahapan-tahapan yang sistematis dan berkala. Budaya lahir karena adanya perilaku kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang dan kemudian perilaku itu menetap menjadi suatu budaya. Dari hal ini kita dapat mengerti bahwa perkembangan suatu kebudayaan berawal dari hal yang sederhana menuju tahapan yang lebih kompleks. Dalam proses pembentukan suatu kebudayaan terbentuk juga subtansi dasar budaya tersebut. Subtansi itu berupa hal yang abstrak dari segala ide gagasan yang bermunculan di dalam masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu sendiri, berupa sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Subtansi kebudayaan ini selain menjadi jiwa ia juga menjadi sebuah dasar pemikiran, bertindak dan berperilaku agar tetap terjadi suatu keseimbangan serta kesinambungan.

Manusia sebagai mahluk budaya mempunyai peranan dalam mengembangkan, mengolah dan melestarikan budaya. Dalam proses mengembangkan dan melestarikan suatu kebudayaan manusia dituntut untuk berilmu, karena tugas manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah. Namun pada kenyataanya ilmu saja tidak cukup, oleh karena itu di perlukan sebuah wawasan yang luas, keterbukaan, dan rasa toleransi yang besar. Karena jika hanya mengandalkan ilmu semata akan terkesan fanatik sebab kita hanya berkutik dan berpegang pada satu keyakinan dan itu akan berimbas pada paradigma diri bahwa apa yang menjadi keyakinannyalah yang paling benar sedangkan yang lain tidak. Hal ini menyebabkan tidak adanya suatu perkembangan dalam kebudayaan dan jika terjadi suatu perkembangan, perkembangan itu adalah perkembangan yang subjektif. Oleh sebab itu wawasan, keterbukaan dan rasa toleransi sangat diperlukan untuk membentuk pemikiran yang lebih objektif dan membawa suatu perkembangan kebudayaan yang berparadigma kontekstual.

Pemikiran yang objektif memungkinkan kita untuk memandang bahwa semua konsep memiliki nilai positif yang sangat berguna bagi kita dalam mengembangankan sebuah kebudayaan. Pengakulturasian budaya sangat diperlukan agar terjadinya suatu hubungan yang harmonis terhadap kebudayaan lain dan menghilangkan sifat fanatisme, karena sifat inilah yang menjadi faktor utama dalam lambatnya perkembangan sebuah kebudayaan bahkan peradaban. Selain itu fanatisme juga sangat bertentangan dengan salah satu kodrat manusia yaitu bahwa manusia sebagai mahluk budaya selalu memiliki rasa ingin tahu, rasa untuk maju, perasaan, fantasi, perilaku dan intelegensi. Walaupun cara pandang objektif harus menjadi paradigma, kita harus tetap memegang prinsip dan ideologi diri yang berguna sebagai kontrol keteguhan jiwa dan iman.

1. b. Resensi / Sinopsis Film.

Film ini lebih kurang bercerita tentang perjalanan sang pendiri organisasi besar Muhamadiyah dalam menghadapi berbagai konflik- konflik dan realita sosial masyarakat yang fanatik akan kebudayaan yang dianutnya dan yang menyelimutinya. Film ini berlatar belakang pada awal abad ke-19, di film ini diceritakan bahwa Muhammad Darwis mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan sepulangnya dari Mekkah pada usianya yang masih cukup muda, yaitu 21 tahun. Pada usia yang tergolong masih muda, beliau merasa gelisah atas pelaksanaan syariat islam yang dinilainya melenceng ke arah bid’ah / kesesatan karena itulah Agama Islam dipandang sebagai agama mistik dan tahayul oleh kalangan orang Eropa (Belanda) dan kaum modern.

Melalui suraunya Ahmad Dahlan membuka sekolah yang menyadarkan bahwa Islam tidak hanya mempelajari soal tauhid, tetapi juga mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan. Bagi Ahmad Dahlan kemiskinan disebabkan karena kebodohan, berangkat dari gagasan itulah maka laki-laki putra Khatib Masjid Besar Kauman itu memulai kiprah besarnya dalam merubah kebudayaan yang melenceng ke arah yang benar.

Ahmad Dahlan memulai pergerakan besarnya dengan mengubah arah kiblat Masjid Kauman. Melalui pengetahuan geografi yang dimilikinya Ahmad Dahlan menyadari bahwa arah kiblat tidak semata-mata lurus ke arah barat. Hal ini memicu kemarahan para kyai fanatik, terutama Kyai Penghulu Kamaludiningrat yang merupakan kyai penjaga tradisi. Hal ini berakibat pada perobohan surau milik Ahmad Dahlan karena dituding menyebarkan aliran sesat. Aktifitas lain Ahmad Dahlan, yaitu mencari para kaum yatim dan duafa untuk ditingkatkan taraf kehidupanya lewat pendidikan, oleh karena itu beliau membuka sebuah sekolah yang menggunakan kursi dan meja kayu seperti di sekolah modern Belanda hal ini juga membuatnya dituding sebagai Kyai Kafir yang menyalah aturan adat dan agama.

Bagi beliau Islam adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin, yaitu dapat memberikan kedamaian bagi siapa saja termasuk kaum non muslim, selama semua itu masih pada koridor pembangunan kesejahteraan masyarakat. Baginya hal pertama yang seharusnya dikedepankan umat Islam adalah akhlaq yang baik, terbuka dan toleran seperti Rasulullah SAW. Secara perlahan namun pasti, kiprah Ahmad Dahlan yang diangap kontroversi tersebut mampu mengubah sebuah persepsi masyarakat. Tidak hanya pandangan umat Islam kebanyakan, tetapi juga persepsi kaum Barat terhadap Agama Islam.

Selain itu, tuduhan Kyai Kejawen juga sempat dilemparkan kepadanya karena Ahmad Dahlan dekat dengan cendikiawan Jawa di Boedi Oetomo. Semua penolakan dan tuduhan tersebut tidak membuat Ahmad Dahlan mundur. Karena beliau selalu didampingi oleh istrinya Siti Walidah dan dukungan lima orang murid setianya Fahrudin, Sudja, Sangidu, Hisyam dan Dirjo. Kemudian pada tahun 1912 Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan untuk mendidik umat Islam yang saat itu berbaur dengan mistik kejawen agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman agar tidak mudah tertindas oleh bangsa lain dan agar dapat dengan mudah menerima segala macam pemikiran-pemikiran baru yang bersifat positif demi kemajuan intelektualitas dan kaum muslim.

1. c. Analisis

Setelah saya menonton film Sang Pencerah, saya dapat melihat bahwa didalam film itu banyak terdapat interaksi, aktifitas dan kegiatan budaya dari awal hingga akhir. Di awal cerita film tersebut terlihat masih kentalnya perbedaan struktur sosial pada masyarakat, bahwa rakyat jelata harus benar-benar tunduk kepada kaum yang tingkat sosialnya lebih tinggi. Pemandangan seperti ini membuat Ahmad Dahlan terusik untuk menelaahnya lebih jauh. Pada film tersebut diceritakan bahwa rakyat biasa harus berlutut saat sesepuh masjid berjalan memasuki masjid. Kemudian muncul kesadaran pada diri Ahmad Dahlan bahwa pada dasarnya setiap manusia di muka bumi ini adalah sama dan sejajar hanya tingkat keimananlah yang membedakan kedudukan mereka dimata Allah, bukan status sosial. Kerisauan ini Beliau sampaikan pada salah satu kesempatan untuk berdakwah, dengan tujuan untuk meluruskan pemikiran yang salah itu. Dari sequel ini kita dapat melihat bahwa Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai mahluk budaya karena Beliau berupaya untuk mengembangkan budaya dengan segala ilmu dan wawasan yang ia miliki, sebab hanya manusialah yang mampu membuat dan mengembangkan suatu kebudayaan. Pada lanjutan kisah, banyak dari para masyarakat termasuk para sesepuh masjid yang sangat tidak setuju pada pandangan Ahmad Dahlan, dikarenakan pemikiran tekstual yang sudah membudaya dan tidak mau menerima perkembangan budaya positif yang di bawa oleh kaum kolonial belanda walaupun sebenarnya perkembangan itu sangat bagus untuk peningkatan wawasan intelektualitas masyarakat, akibatnya adalah timbulnya kesenjangan yang mendalam.

Namun tidak untuk Ahmad Dahlan, Beliau adalah sosok yang memiliki karakter kontekstual yang sangat terbuka pada segala bentuk budaya dan adat istiadat selama tidak melanggar prinsip-prinsip dasar Islam, sikap seperti ini membutuhkan rasa toleransi yang sangat tinggi. Karaker Ahmad Dahlan tersebut terbentuk dari lingkungan Beliau selama menuntut ilmu di tanah suci. Bahwa disana beliau banyak belajar tentang perkembangan dari negara-negara Eropa dan timur tengah yang pada saat itu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Itu semua harus didukung oleh jiwa toleransi tinggi yang dimiliki Ahmad Dahlan. Jiwa toleransi yang tinggi mempermudah seseorang untuk bisa menerima segala bentuk perbedaan yang ada. Karena pada dasarnya perbedaan itu diciptakan agar kita selalu terpancing untuk terus belajar demi peningkatan taraf kehidupan dan wawasan.

Seperti yang telah ditulis diatas bahwa dalam pembentukan sebuah kebudayaan pasti memerlukan pengorbanan besar pada waktu dan rasa. Terlihat pada saat proses dakwah, Ahmad Dahlan harus menerima kenyataan bahwa dirinya disebut sebagai kyai kafir, beliau juga harus menerima bahwa surau miliknya dihancurkan oleh warga sekaligus umatnya sendiri. Fenomena penyimpangan kebudayaan seperti ini adalah bentuk fanatisme masyarakat akibat dari penutupan diri atas dunia luar, akibatnya ilmu yang mereka miliki dan anut tidak mengalami peningkatan apapun. Dan jika diihat dengan kacamata modern zamannya, perilaku seperti itu adalah perilaku yang sangat primitif. Sangat disayangkan bila sampai saat ini perilaku tersebut masih ada, karena tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini tidak terlaksana, serta kemampuan manusia seperti akal, rasa, intelektualitas, kemauan, fantasi dan perilaku terbuang sangat sia-sia. Kemudian kodrat manusia yang semestinya ternodai dan terciderai oleh tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab. Pembentukan, pengembangan dan pembenaran paradigma kebudayaan membutuhkan pengorbanan waktu, butuh waktu panjang untuk itu. Semua ini terbukti bahwa Ahmad Dahlan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengubah cara berfikir yang subjektif dan tekstual ke cara berfikir yang objektif dan kontekstual.

Di setiap produk budaya pasti di dalamnya ada makna yang bisa dijelaskan secara filosofis. Namun juga dalam menjalankan budaya harus disertai dengan logika dan korelasi dengan kehidupan sekarang, makna filosofis itu memang penting tetapi lebih penting lagi implementasinya pada kenyataan yang sesungguhnya. Dalam salah satu adegan dalam film ini diceritakan bahwa sebenarnya menurut adat jawa bahwa ketika kita mengadakan acara membaca surat yasin dan tahlil untuk mendoakan leluhur, kita harus memasak makanan seperti apem, ketan, dan lainya. Dan kemudian ada salah satu tetangga Ahmad Dahlan yang bertanya, “bagaimana ketika kita tidak mempunyai uang untuk itu?”. Kemudian Beliau meluruskan paham itu, bahwa yang terpenting adalah keikhlasan kita dalam mendoakan. Dari sini kita dapat melihat bahwa Ahmad Dahlan terbukti sebagai mahluk budaya, bahwa beliau dapat menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial dengan segala ilmu yang Beliau miliki. Membenarkan arah kiblat adalah salah satu bentuk kontrol budaya yang dilakukanya, bahwa sesungguhnya Beliau ingin memberikan dan berbagi ilmu, karena pada hakikatnya manusia mempunyai hubungan dengan sesama. Ada banyak faktor kenapa banyak masyarakat serta para ulama masjid gede menolak diantaranya, faktor mistik bahwa masyarakat masih mengkaitkan antaran ajaran agama dengan keadaan adat istiadat sehingga ini menghambat perkembangan budaya tersebut. Kemudian faktor psikologis juga sangat mempengaruhi, bahwa keinginan mereka untuk menolak pemikiran dari Ahmad Dahlan sangat besar sehingga faktor ini juga berpengaruh.

Jika kita menyelami lagi konflik yang terjadi pada film tersebut , bahwa hal yang mendasari konflik adalah perbedaan persepsi dalam melihat sesuatu yang baru. Walaupun berbeda persepsi Ahmad Dahlan tetap menjunjung nilai toleransi. Berbeda dengan para kaum yang menolak persepsi Ahmad Dahlan, bahwa mereka tidak menggunakan rasa toleransi yang seharunya dimiliki oleh setiap manusia atau kelompok. Rasa toleransi yang tinggi membuat tingkat intelektualitas dan kemajuan Ahmad Dahlan dan para pengikutnya selangkah didepan, sangat berbeda dengan para kaum yang menentangnya. Ini membuktikan bahwa perbedaan persepsi merupakan faktor yang membuat terhambatnya dan lambatnya suatu perkembangan budaya.

Mengutip salah satu ungkapan Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah, “hidup hanya sementara, oleh sebab itu jangan menyia-nyiakan hidup. Karena hidup sebentar, maka kemampuan yang dimi­liki seseorang harus disumbangkan kepada masyarakat”. Dari potongan dialog ini dan pada film kita dapat melihat bahwa pada zaman itu masih kurang sekali pemerataan pendidikan, padahal pendidikan adalah syarat utama pembentukan dan pelestarian suatu kebudayaan. Kesadaran ini membuat Ahmad Dahlan membangun sekolah dengan mengambil murid-murid dari para anak yatim dan para du’afa, memang tidak membutuhkan biaya yang sedikit dalam membangun ini. Seperti dijelaskan di atas bahwa dalam membentuk suatu budaya membutuhkan pengorbanan rasa, ini di alaminya ketika harus mengorbankan seluruh harta benda dan cemoohan dari masyarakat yang menolak cara berfikir dan menganggapnya gila.

Ahmad Dahlan adalah sosok berjiwa besar dan mempunyai keinginan untuk selalu maju, Beliau bergabung dengan organisasi non politik Boedi Oetomo dengan tujuan agar dirinya dapat selalu berkembang. Selama bergabung Beliau melakukan transfer ilmu pengetahuan, bahwa Beliau belajar bagaimana membentuk suatu organisasi, mengelola dan mengembangkannya. Hingga akhirnya pada suatu hari semua ilmu itu berguna, Beliau bersama murid-murid setianya membentuk organisasi Muhammadiyah. Organisasi ini masih eksis hingga sekarang, ini di karenakan sikap Ahmad Dahlan yang teguh dalam memegang prinsip kebaikan dan keberhasilanya dalam memodifikasi cara hidup, mengadopsi beberapa elemen dari kebudayaan lain, kontak yang luas dan baik dengan kelompok lain serta pewarisan paradigma tentang relasi dengan sesama. Tidak luput juga jiwa sosialis dan keikhlasan Beliau dalam mencerdaskan rakyat, pengorbanan Beliau dalam memberikan pencerahan dan dalam merubah pola pikir masyarakat dengan segala kemampuanya dan keteguhan hatinya dalam memegang prisip-prinsip hidup yang menjadi pedomannya dalam berdakwah di jalan Allah.

Karakter Ahmad Dahlan ini terasah dari segala pengalaman yang Beliau lalui, bahwa tanpa mendapat pengalaman seperti ini Beliau tak akan mungin bisa mengembangkan dan memegang teguh ideologinya. Jadi lingkungan dan pengalaman adalah suatu faktor yang sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.




BAB III

KESIMPULAN

Dari penjabaran di atas kita dapat mengetahui bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi suatu kebudayaan, butuh banyak sekali pengorbanan dalam membentuk suatu kebudayaan, totalitas dalam bertindak dan ikhlas dalam melakukan segala sesuatu.

Pandangan yang dimiliki Ahmad Dahlan menjadi suatu budaya, ini karena budaya adalah sistem gagasan milik diri manusia yang didapat dengan belajar. Bahwa pewarisan pandangan ini adalah dengan cara penyebaran pendidikan.

Setelah saya analisis segala perilaku yang di lakukan Ahmad Dahlan patut kita ikuti, karena segala tindakannya adalah tindakan-tindakan yang berbudaya namun dengan tetap tidak meninggalkan perkembangan modernisasi guna menambah wawasan dan intelektualitas kita. Hal penting yang harus diteladani adalah sikap toleransi yang tinggi, karena sikap ini adalah dasar kita untuk dapat berkembang. Persepsi setiap orang dalam memandang sebuah fenomena pasti berbeda, oleh karenanya kita harus mempunyai rasa menghargai yang besar disertai dengan perilaku yang toleran. Hal penting lain mengapa sikap ini perlu dikembangkan di sebabkan karena wujud-wujud kebudayaan yang berupa ide gagasan, nilai-nilai norma dan peraturan bersifat abstrak, lain halnya dengan wujud kebudayaan yang berupa aktifitas atau tindakan berpola dan benda hasil karya yang bersifat nyata. Sebab segala sesuatu yang bersifat abstrak itu sangat sulit untuk diubah jika terjadi suatu kesalahan ini di karenakan wujud abstrak itu berupa pikiran atau ide gagasan, dan pikiran atau ide gagasan itu menyangkut tentang ideologi atau prinsip dasar.

Berbeda halnya dengan wujud kebudayaan yang berupa aktifitas atau tindakan berpola dan benda hasil karya manusia, wujud seperti ini lebih mudah untuk di ubah karena wujud ini hanya berisi tindakan yang filosofis dan tidak mempunyai dasar dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah, serta terbentuknya bukan dari sebah perkembangan ideologi tertentu.

Film ini memang layak ditonton oleh anak muda pada zaman sekarang karena banyak sekali nilai-nilai yang patut diteladani namun telah banyak dilupakan. Seperti ketulusan dalam bertindak, totalitas, toleransi dalam berpersepsi dan pandangan hidup kedepan dan maju. Dari film ini juga kita diajak untuk selalu belajar dan belajar, karena manusia yang berilmulah yang bisa dikatakan sebagai manusia yang berbudaya. Sebab dalam melestarikan sebuah budaya diperlukan sebuah ilmu pengetahuan agar kita tidak salah dalam mengakulturasian budaya. Selain itu dengan menonton film ini seharusnya pikiran kita dapat terbuka problematika budaya, melihat dari sisi kebudayaan, bangsa ini juga meng­alami kemunduran dan miskin karya kemanusiaan. Setelah menonton dan mendapat hikmah dari film ini seharusnya kita dapat memulai berjuang meningkatkan kualitas hidup bangsa melalui pen­didikan, kesehatan dan sosial. Perjuangan yang kita harus dilakukan sebaiknya ti­dak membawa misi politik dan kekuasaan tertentu. Semua itu harus murni untuk kepentingan rakyat. Perjuangan yang ditunjukkan Ahmad Dahlan dapat dimaknai bahwa, untuk menjadi orang yang besar ternyata dibutuhkan impian, pemikiran dan tindakan yang besar pula.




DAFTAR PUSTAKA

Setiadi, M.,E., Hakam, A., K., Effendi, R. 2008 Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, Bandung : Kencana.

Matsumoto, David. 2004 Pengantar Psikologi Lintas Budaya, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Taliziduhu Ndraha.2003 Budaya Organisasi, Jakarta: Rineka Cipta.

Suyono, Hadi. "Cahaya Sang Pencerah”. Harian Pagi Kedaulatan Rakyat 3 Oktober 2010: 16.

A.A. Sitompul.1993 Manusia dan Budaya, Jakarta: Gunung Mulia.

http://www.sangpencerahthemovie.com

0 komentar:

Poskan Komentar